Pada tanggal 13 Juli 2026, korban cerita bahwa Bripka IH membawa “teman wanita” bersama dengan kedua anak korban dan Bripka IH, dan anak pertama korban memberitahukan hal itu kepada korban.
Pada tanggal 22 Juli korban bercerita pada temannya apa alasan korban dan mantan suami bertengkar hebat pada tanggal 15 Juli kemaren.
Selama berada di rumah mantan mertua dan tinggal bersama mantan suaminya, mantan suami tidak menunjukan sikap yang baik dan selayaknya seorang mantan suami yang ingin baikan dan rujuk demi keluarga dan anak-anak.
Pada tanggal 23 dan 24 Juli korban mengutarakan kegelisahannya mengenai tuntutan yang diajukan oleh pihak keluarga Bripka IH untuk membaptis anak mereka, padahal korban sudah mengatakan anak mereka sudah pernah dibaptis dan tidak usah dibaptis ulang.
Korban mengatakan bahwa alasan anak dibaptis ulang adalah alibi dari keluarga ini supaya pernikahan mereka dicatatkan kembali, dan itu adalah hal yang tidak diinginkan oleh korban karena korban tidak mau pernikahannya kembali gagal dan korban mengalami tekanan lagi.
Di hari yang sama korban meminta uang kepada BRIPKA IH untuk membeli makan, tetapi hanya diberikan uang sebesar 10rb.
Korban juga mengutarakan niatnya untuk kembali ke Jakarta, tetapi Bripka IH mengancam korban dengan tidak dapat bertemu dan berkomunikasi dengan anak-anaknya jika korban keluar dari rumah tersebut.
Alasan yang sama digunakan Bripka IH ketika menjemput paksa korban ke Medan pada tanggal 5 Juni 2026.
Pada tanggal 29 Juli 2026 korban menelepon temannya tetapi karena tidak diangkat, korban mengirim pesan suara, yang berisi korban menangis dan meminjam uang untuk parkir di sekolah anaknya karena BRIPKA IH tidak memberikan uang sepeserpun kepada korban.
Dia malah menyuruh korban meminta 50.000 kepada mantan bapak mertua korban, sehingga korban mengatakan bahwasanya tidak etis seorang menantu meminta uang langsung kepada mertua. Tetapi pesan balasan dari BRIPKA IH hanya berisi makian.
Pada tanggal 1 Agustus 2026 korban menelfon temannya dan mengatakan bahwa korban baru selesai menjemput anak-anak dari sekolah, dan korban menceritakan ketika diperjalanan anak-anak meminta makan di KFC, karna korban berpikir bahwasanya anak-anak sudah lama tidak makan KFC maka korban menyetujui permintaan anak-anak dan korban menghubungi BRIPKA IH untuk meminta uang.
Bukannya mengirim uang untuk makan anak-anak, tetapi korban hanya mendapat jawaban berupa makian lagi. Selama percakapan korban dan temannya, korban mengatakan bahwasanya korban tidak tahan dengan perlakuan seperti ini terus, korban ingin keluar dari rumah tersebut dan tidak sabar menunggu tanggal 8 agustus karena ada pihak yang ingin membeli rumahnya yang di Jakarta.
Akhirnya korban meminjam uang kepada temannya, dan berjanji akan segera mengembalikan nya besok.
Namun di tanggal 2 agustus 2026 sebelum korban meninggal, korban mengirim pesan kepada temannya pada pukul 09.31 yang mengatakan tidak jadi mengembalikan uang yang di pinjam kemarin karena di perbincangan pada hari sabtu sebelumnya korban berniat mengembalikan dan meminta agar temannya mengirim nomor rekening, dan temannya membalas sore hari tetapi pesan itu tidak pernah dibalas lagi…