Story About Trunyan Bali Unique Funeral Rites History

Trunyan Village, also spelled Terunyan, is a remote Balinese village on the eastern shore of Lake Batur in Kintamani, Bangli Regency, Bali, Indonesia.

It’s one of the most notable homes of the Bali Aga, the indigenous people of Bali who predate the arrival of Hindu-Buddhist influences from the Majapahit Empire.

Here’s a concise overview based on available information:

Key Features:

Unique Funeral Rites: Trunyan is famous for its distinctive burial tradition. Unlike most Balinese Hindus who cremate their dead, the Trunyanese place bodies in open-air bamboo cages under a sacred Taru Menyan tree (meaning “fragrant tree”) at the Trunyan Hill Cemetery, also called Sema Wayah.

The tree is believed to neutralize the odor of decomposition. Only those who died naturally are placed here; those who died unnaturally (e.g., accidents, suicide, or murder) are buried at Sema Bantas, while children and unmarried adults are buried at Sema Muda.

Bali Aga Culture: The Bali Aga of Trunyan maintain ancient customs predating Hinduism and Buddhism, including ancestor worship and unique rituals like the Barong Brutuk dance, performed by 21 young men after a 42-day purification period during the Ngusaba ceremony at Pura Pancering Jagat (around October). Their language and traditions differ from mainstream Balinese culture.

Pura Pancering Jagat: This temple, meaning “Navel of the Universe,” houses a 4-meter-tall megalithic statue of Bhatara Da Tonta, a local deity linked to the Batur volcano. Visitors are generally not allowed inside, but the temple’s architecture and 1,100-year-old banyan tree are notable.

Location and Access: Nestled at the foot of Mount Abang in a caldera lake, Trunyan is isolated and primarily accessible by boat from Songan or Kedisan, taking 15-30 minutes. A road exists but is steep and challenging. The surrounding landscape, including Lake Batur and Mount Batur, offers stunning views.

Visitor Information:

Cultural Experience: Visitors can explore the village, cemetery, and local crafts like bamboo weaving and traditional cuisine (e.g., Bebek Betutu, Lawar). The cemetery, with skulls and bones openly displayed, attracts those interested in cultural or “dark tourism.”

BACA JUGA :  Ajudan Bupati Kutai Barat Aniaya Sopir Truk di Jalan Raya, Penumpang Bus: Bupati Kok Begitu

Recommendations: Hiring a local guide is highly advised to navigate cultural nuances and avoid reported issues with locals requesting money. Tours often include boat rides, cultural explanations, and stops at nearby attractions like Lake Batur or hot springs. Respectful behavior, modest dress, and permission before photographing are essential.

Travel Tips: The best time to visit is during the dry season (April-October) for favorable weather. Tours start at around Rp 160,000 (~$10 USD), with options including private boats and meals. Travel from major tourist hubs like Canggu or Seminyak takes about 2-3 hours to Kintamani.

Notes:

The village’s isolation has preserved its traditions, but some modernization (e.g., concrete buildings) is evident. Economic challenges lead some locals to rely on tourism, which can result in mixed visitor experiences.

The cemetery’s serene yet eerie ambiance, with sacred cows roaming and no foul odors due to the Taru Menyan tree, makes it a unique cultural site.

For a deeper dive into Trunyan’s history or specific tour bookings, check sites like Traveloka or Bali Government Tourism Office. Would you like more details on specific aspects, like the Barong Brutuk ceremony or travel logistics?

Kisah Tentang Desa Terunyan atau Trunyan Bali Kintamani

Terunyan (atau Trunyan) adalah sebuah desa di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Indonesia, yang terletak di tepi timur Danau Batur, di kaki Gunung Abang. Desa ini dikenal sebagai salah satu kampung Bali Aga (Bali Mula), penduduk asli Bali yang mempertahankan tradisi kuno sebelum pengaruh Hindu-Buddha masuk. Berikut adalah poin-poin penting tentang Terunyan:
Tradisi Pemakaman Unik:
Terunyan terkenal dengan tradisi pemakaman yang berbeda dari umumnya di Bali. Jenazah tidak dikubur atau dibakar (ngaben), tetapi diletakkan di atas tanah di bawah pohon Taru Menyan (Styrax benzoin) di lokasi yang disebut Sema Wayah. Pohon ini dipercaya mampu menetralkan bau busuk jenazah karena mengeluarkan aroma harum, yang juga menjadi asal usul nama “Terunyan” (dari “taru” berarti pohon dan “menyan” berarti harum).
Ada tiga jenis kuburan (sema) berdasarkan jenis kematian:
Sema Wayah: Untuk kematian wajar, jenazah ditutup kain putih dan diletakkan di bawah pohon Taru Menyan.
Sema Bantas: Untuk kematian tidak wajar (kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh).
Sema Muda: Untuk bayi, anak kecil, atau orang dewasa yang belum menikah.
Bali Aga:
Penduduk Terunyan adalah Bali Aga, yang menganggap diri mereka sebagai Bali Mula (asli Bali) dan menolak sebutan “Bali Aga” karena dianggap menghina. Mereka hidup terisolasi dan mempertahankan tradisi pra-Hindu yang unik, seperti upacara kematian dan kesenian Barong Brutuk, sebuah tarian sakral dengan arca yang melambangkan Ratu Sakti Pancering Jagat dan Ida Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar.
Pancering Jagat Temple:
Desa ini memiliki Pura Pancering Jagat, salah satu pura tertua di Bali (dibangun sekitar 1266 M), dengan peninggalan megalitik seperti Patung Datonta (Ratu Sakti Pancering Jagat) setinggi 4 meter, patung Ganesha, dan nekara yang disebut “bulan jatuh”. Pura ini menjadi pusat spiritual masyarakat Terunyan.
Akses dan Pariwisata:
Terunyan hanya dapat diakses dengan perahu dari dermaga Kedisan di Danau Batur, memakan waktu sekitar 15-30 menit. Desa ini menarik perhatian wisatawan, terutama yang tertarik pada “dark tourism” karena tradisi pemakamannya yang unik. Pengunjung disarankan menghormati adat lokal, seperti berpakaian sopan dan meminta izin sebelum memotret.
Desa ini menawarkan pemandangan alam Danau Batur yang indah, namun tetap mempertahankan suasana mistis dan terisolasi.
Sejarah dan Mitos:
Menurut legenda, pohon Taru Menyan berusia lebih dari 1.100 tahun dan dianggap memiliki kekuatan mistis untuk menyerap bau jenazah. Nama desa diyakini berasal dari pohon ini.
Desa ini dianggap sebagai salah satu tempat tertua di Bali, dengan bukti arkeologi seperti prasasti tembaga dari abad ke-10 yang ditemukan di pura setempat.
Secara keseluruhan, Terunyan adalah destinasi yang menawarkan kombinasi budaya kuno, tradisi unik, dan keindahan alam, menjadikannya tempat yang menarik sekaligus mistis bagi wisatawan yang ingin menjelajahi sisi lain Bali.

Loading