Bagaimana menghakimi seseorang dari busana yang mereka pakai? Kalaupun mereka beragama Islam, lantas apa masalahnya? Hingga malam hari, Mike tidak bisa tidur. Ia merasa cemas kalau putrinya akan dipengaruhi orang-orang asing itu. Mimpi buruk terbesarnya adalah suatu hari Emily akan menjadi Muslim.
Itulah yang mendorongnya untuk mempersiapkan bom rumahan, untuk kemudian diledakkan di tengah jamaah Islamic Center Muncie. Persiapan dilakukannya dengan rapi. Mantan marinir ini seolah-olah hendak berangkat ke medan pertempuran.
Tibalah ia di masjid tersebut. Siang itu, tempat ibadah Muslimin ini tampak cukup ramai. Beberapa jamaah masih berada di sana, sesudah menunaikan shalat Jumat. Beberapa orang melihat Mike turun dari mobil dengan memakai jas tebal dan ikat kepala.
Untuk sesaat, di pikiran Mike terlintas kata-kata putrinya: Setiap orang tidak dilahirkan dengan prasangka, rasialisme, atau kebencian. Karena itu, ia sempat mengurungkan niatnya untuk langsung melempari masjid ini dengan bom buatan.
Tidak ingin kedatangannya sia-sia, Mike memilih untuk memasuki bangunan Islamic center ini. Mulanya, ia merasa aneh.
Pemandangan setempat tampak biasa saja. Tidak ada di sana, umpamanya, spanduk-spanduk semboyan anti-Amerika atau dukungan pada Alqaidah seperti yang selama ini dibayangkannya.
Di dalam masjid itu, ia berdiri saja. Dirinya sedikit gugup karena merasa sebagai satu-satunya non-Muslim di sana.
Beberapa lama kemudian, seorang jamaah menghampirinya dan berkata, “Apakah ada yang bisa saya bantu?” Tidak tahu harus menjawab apa, Mike pun menyahut, “Saya ke sini karena ingin tahu tentang Islam.”
Inilah yang mengawali momen kesadarannya. Oleh jamaah tersebut, Mike dipersilakan untuk duduk dan menunggu. Beberapa saat kemudian, lelaki itu datang dengan seorang dai yang biasa mengimami sholat jamaah di masjid tersebut.
Terjadilah dialog di antara keduanya. Imam itu mempersilakan Mike untuk menyampaikan pertanyaan atau tanggapannya mengenai Islam.
Semula, mantan tentara ini mengaitkan agama tersebut dengan paham-paham terorisme dan ekstremisme. Sang imam mendengarkannya, tanpa sekali pun menyela.
Tiba giliran berbicara, dai tersebut mulai menjelaskan tentang fondasi ajaran Islam, yakni Alquran dan sunah Nabi Muhammad SAW. Dipaparkannya pula mengenai rukun iman, rukun Islam, serta pengertian ihsan.
Ia antara lain menyampaikan salah satu pesan Nabi Muhammad SAW, yakni tidaklah beliau diutus oleh Allah SWT kecuali untuk menyempurnakan akhlak.
Seorang individu atau kelompok mungkin saja melakukan kekerasan ekstrem dan teror sembari mengatasnamakan agama.
Namun, tindakan pelaku kekerasan itu justru bertentangan dengan ajaran agama. Yang terjadi adalah mereka kurang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Islam.
Mike terlibat dialog yang intens selama beberapa jam di sana. Pada akhirnya, ia mengakui keterbatasan pengetahuannya mengenai Islam. Bahkan, lelaki itu mulai tertarik pada ajaran agama tauhid.
“Segalanya menjadi jelas bagi saya. Sesudah itu, saya pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Keinginan saya kuat untuk menjadi Muslim,” kata Mike mengenang salah satu momen terpenting dalam hidupnya.
Ikut Berdakwah
Sejak memeluk Islam, Mike memilih nama baru, yakni Omar Sayeed Ibn Mac. Sebab, dirinya ingin meniru jejak Umar bin Khattab, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW.
Lagi pula, kisahnya dalam menemukan hidayah mungkin tidak jauh berbeda dengan yang dialami al-Faruq. Semula membenci, tetapi kemudian hatinya lapang dalam menerima cahaya kebenaran.
Mike alias Omar Sayeed masuk Islam dengan komitmen yang penuh. Ia sungguh-sungguh menyadari salah satu ayat Alquran yang menegaskan tujuan kehidupan manusia: beribadah hanya kepada Allah SWT. Dan, ibadah itu dimaknai bukan sekadar ritual, melainkan praksis sehari-hari. Sumber: HajiNews.id
Kisah Umar Sebelum Masuk Islam adalah Musuh Utama Kaum Muhajirin
![]()