ISTRI YANG SELALU MEMINTA

ISTRI YANG SELALU MEMINTA
Oleh: Feby Febryani

“Mas, tolong angkatin galon, dong!”

Seruan itu terdengar dari arah dapur. Fokusku terpecah! Sebuah peluru dari lawan mengenai bahuku.

Aku terjajar, bahkan nyaris jatuh. Tangan sang tokoh dalam gim yang sedang aku mainkan menekan bagian tubuh yang terluka.

Aku sembunyi di balik pohon, mengintai musuh yang mencari-cari aku.

“Mas!”
Dor!

Aku tewas seketika. Game over.

“Apa, sih, Dek?” tanyaku gusar.

“Angkatin galon.” Kali ini suaranya mendayu manja.

“Gitu aja nggak bisa!” Aku bangkit dengan kesal lantas menuju dapur. Heran! Angkat barang begitu saja nggak bisa. Bagaimana kalau aku nggak ada? Apakah dia harus menahan haus sampai aku pulang?

Sambil mendengkus, aku mengangkat galon yang bagian atasnya telah Nova bersihkan.
“Terima kasih, Cinta,” ujar Nova sambil mencolek bokongku.
***

“Mas, bagi duit 100, ya.”

Nova memberikan dompetku. Dia baru saja mengambilnya dari celana panjang yang aku gantung di belakang pintu. Jika butuh uang, dia tak akan lancang mengambilnya sendiri.

“Buat apa lagi, sih? Kan tiga hari lalu sudah aku kasih. Masa sudah habis?”
“Anu, Mas.”

“Anu apa? Mau alasan beras naik? Minyak goreng mahal? Kalau uang mingguanmu habis, ya, berhemat, dong! Minyak beli secukupnya saja!”

Nova terdiam. Sedetik kemudian sudut bibirnya bergerak-gerak.

Dasar cengeng! Begitu saja mewek! Aku mengeluarkan uang yang dia minta.

“Nggak jadi, Mas. Makasih.”

“Dasar ambekan!” umpatku sambil memasukkan kembali lembaran itu ke dompetku.

Dia keluar dari kamar dengan wajah cemberut.

Nova begitu boros. Masa, 300 ribu seminggu nggak ada cukup-cukupnya.

Anak kami dua orang. Sulungku baru masuk SD sementara yang bungsu baru tiga tahun. Kata ibuku, 300 ribu untuk satu minggu sudah lebih dari cukup jika istriku pandai berhemat.

Saat ibuku masih seusia kami, anaknya empat dan bapak hanya memberinya 20 ribu seminggu.
***

“Mas, Mas.” Nova mengguncang tubuhku.

Aku yang baru tertidur pukul tiga dini hari menjadi kaget. Segera aku melihat jam dinding yang menunjuk ke angka tujuh.
“Ada apa, sih, Dek?”

“Gantiin gas. Mau bikin kopi. Sudah aku beli di warung. Tapi nggak bisa masangnya,” rengek Nova.

“Astagfirullah! Gitu aja kamu nggak bisa! Mau jadi apa kamu, Nova!” hardikku. “Kau takut gas meledak? Emangnya itu tabung gas nggak akan meledak di wajahku?”

Nova menciut. “Ya, udah, Mas. Tidur lagi saja. Biar aku coba,” ujarnya.

“Sudah! Biar aku saja! Kalau mau coba mah dari tadi! Bukannya membangunkan orang tidur terus ngambek!”

Aku ke dapur dan memasangkan tabung gas. Kompor aku tes. Setelah api menyala dengan baik, aku menuju kamar mandi.
***

“Dek, ini uang belanja buat seminggu.”

“Makasih, Mas,” ucapnya.
“Kurang nggak?”

Nova menggeleng.

Aku menatapnya dengan heran. Biasanya, dia selalu minta tambahan. Dua puluh ribu, kadang lima puluh ribu atau seratus ribu. Akan tetapi, rasanya sudah lama sekali aku tak mendengarnya merayu untuk meminta tambahan uang. Ya, sudahlah. Mungkin Nova mulai pandai berhemat. Setelah membuka pakaian, aku ke kamar mandi.

“Dek!” panggilku dari dalam kamar mandi. “Sabun mukanya mana?” tanyaku.
“Habis, Mas,” jawabnya.
“Aduh! Kok, nggak beli, sih?”
“Pake sabun badan aja, Mas,” sahut Nova.

Aku membasuh wajah dengan sabun batang yang ada kemudian mengambil botol sampo.

“Dek! Ini sampo kok isinya air doang, sih?”
“Masih bisa dipake itu, Mas,” sahutnya.
“Dek.” Aku menongolkan wajah dari kamar mandi. “Tolong belikan sampo bentar.”

Nova bergegas pergi. Tak lama kemudian dia memberikan satu saset sampo.

“Kok beli yang saset, sih? Kenapa nggak sekalian yang gede?”
“Mas. Minyak, beras dan gula lebih utama. Harus selalu tersedia di dapur. Nggak ada sampo bisa pakai sabun batang, usap ke rambut.

Orang jaman dulu nggak ada yang sampoan kok, kepala mereka baik-baik saja, ‘kan,” cerocosnya.

“Nyindir, nih?” godaku. Aku memang sering membandingkan gaya hidup orang-orang sekarang dengan jaman dulu.
Nova hanya membuang wajah.
***

Tiga minggu telah berlalu. Tidak pernah lagi aku mendengar Nova meminta tolong untuk diangkatkan galon atau minta dipasangkan tabung gas. Dia pun tidak pernah lagi meminta tambahan uang mingguan.

Kehidupan kami baik-baik saja. Anak-anak lincah dan sehat seperti biasa.

Suatu hari, aku ke dapur untuk mencari Nova yang tak kudengar suaranya sejak pagi. Aku lihat dia tengah membungkuk-bungkuk di lantai.

“Ngapain, Dek?” tanyaku. Anak-anak sedang asyik duduk di lantai sambil memukul-mukul ubin yang basah dengan telapak tangan.
“Ini, Mas. Tadi aku angkat galon, eh, terguling. Jadi tumpah.”

 3,074 total views